The Elephant Man
Seorang antropolog bernama Ashley Montagu menulis sebuah buku berjudul “The Elephant Man”. Elephant Man adalah manusia sungguhan bernama John Merrick yang tinggal di Inggris pada abad kesembilan belas dan meninggal pada tahun 1890 di usia dua puluh tujuh tahun. Beginilah Ashley memulai bukunya:
Apakah kehidupan manusia itu? Suatu denyut di dalam detak jantung kekekalan-kah? Tangisan yang dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian-kah? Pengembaraan singkat dan penuh gejolak di pantai yang tidak ramah, dimana sesungguhnya tidak ada sukacita, tidak ada kasih, tidak ada terang, tidak ada kepastian, tidak ada kedamaian, tidak ada pertolongan atas kepedihan-kah? Atau apakah, apakah lebih daripada itu?
Dalam buku inilah, menurut saya, terletak sesuatu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.
Merrick
itu mungkin manusia paling buruk rupa yang pernah hidup. Kelainan yang dikenal sebagai neurofibromatosis bekerja secara progresif semenjak ia kecil sehingga mengubahnya menjadi monster. Di usia empat tahun seorang pemimpin karnival menemukannya dan memutuskan untuk mendapatkan uang dari penampilannya yang mengerikan itu. Mereka-mereka yang melihatnya akan membayar beberapa sen untuk melihat manusia yang demikian tidak karuan bentuknya, sehingga dari sudut tertentu ia menyerupai seekor gajah dengan belalainya serta kulit berlipat-lipat.
Suatu hari, Frederick Treves, seorang dokter bedah di rumah sakit di London, berjalan-jalan ke karnival tersebut seusai jam kerja, memperhatikan gambaran kasar tentang seorang manusia gajah di kanvas penutup ruangan itu, dan membayar untuk melihatnya sendiri. Ia lihat suatu makhluk yang meringkuk di sebelah kompor Bunsen untuk menghangatkan diri, yang dinyalakan oleh api gas biru. Sosok bungkuk ini meringkuk di balik selimut yang tampaknya merupakan perwujudan dari kesepian dan keputusasaan.
Seolah-olah memberikan perintah kepada seekor anjing, sang pemimpin karnival membentak, “Ayo berdiri!” Makhluk ini pun bangkit berdiri dan membiarkan selimutnya jatuh ke tanah, mengungkapkan kepada
Treves
“spesimen manusia yang paling menjijikkan yang pernah saya lihat”.
Treves lebih lanjut menggambarkan cacat sang Elephant Man secara klinis: ada massa bertulang yang menonjol dari dahinya, kulitnya seperti busa, dengan permukaan retak menyerupai cauliflower (semacam sayuran) coklat bergantung berlipat-lipat dari punggungnya; sebuah kepala yang tidak beraturan bentuknya, yang sangat besar, yang lingkarannya sama dengan lingkar pinggang seorang dewasa; mulutnya seperti bukaan mengok yang meneteskan air liur; hidungnya seperti tumpukan kulit yang menggantung; sekantong daging seperti kantong leher seekor reptil tergantung dari dadanya. Lengan kanannya membesar dua kali ukuran normalnya, jari-jemarinya gemuk pendek dan tidak dapat digunakan.
Ada
berlapis-lapis kulit menggantung di salah satu ketiaknya; kaki-kaki cacat menopangnya hanya kalau ia berpegangan pada sebuah kursi.
Ada
bau menyengat tercium dari kulitnya yang berjamur.
Setelah rasa jijiknya dikalahkan oleh rasa ingin tahunya tentang kondisi medis orang ini, Dr. Treves pun mengatur agar John Merrick, yang ketika itu berusia 21 tahun, untuk diperiksa di rumah sakitnya. Karena cacat pada mulutnya, Merrick sulit berbicara, dan
Treves
menilainya terbelakang. Setelah mengambil beberapa foto dan membuat banyak catatan, Treves sia-sia berusaha berkomunikasi lebih lanjut, memberikan kartu namanya kepada
Merrick
, dan mengembalikannya kepada sang pemimpin karnival. Keesokan harinya polisi menyerbu karnival tersebut, dan
Treves
mengasumsikan tidak akan pernah melihat sang Elephant Man lagi.
Selama dua tahun lagi John Merrick hidup sebagai orang buangan, diakomodasikan seperti hewan sirkus dan dibiarkan ke luar untuk menghibur orang-orang yang penasaran, yang pasti ngeri melihatnya. Ketika pihak penguasa di Belgia menutup karnival itu selamanya, pemimpinnya mengantongi bagian Merrick dari hasil penjualan tiketnya dan mengirimkannya kembali ke
London
.
Selama perjalanan, para penumpang lainnya menyiksanya, mengangkat pinggiran pakaiannya untuk mengintip tubuhnya yang tidak karuan itu. Di stasiun kereta api di
London
, polisi menyelamatkannya, dan membawanya ke ruang tunggu yang sudah tidak digunakan lagi, dimana ia meringkuk di pojok yang gelap, menggumamkan kata-kata yang tidak dapat mereka pahami. Ia hanya mempunyai seberkas pengharapan: kartu Dr. Frederick Treves, yang sudah dua tahun di simpan di sakunya.
Treves menjawab panggilan polisi, menemukan
Merrick
meringkuk di pojok dan mengantarkannya ke bangsal isolasi di rumah sakitnya. Ia belum pernah makan atau minum semenjak berangkat dari Belgia.
Treves
memesan makanan dari kafetaria rumah sakitnya tetapi perawat yang mengirimkannya, tidak siap melihatnya, menjerit, menjatuhkan nampannya, dan lari dari kamarnya. Sang pasien tidak sempat memperhatikan.
Dengan berjalannya waktu, staf rumah sakit terbiasa dengan pasien yang luar biasa ini. Bau badannya hilang setelah dimandikan setiap hari. Dengan latihan, Treves belajar memahami perkataan Merrick, dan di luar dugaannya, ternyata jauh dari terbelakang,
Merrick
justru kutu buku. Ia telah mempelajari Alkitab dan Kitab Doa Umum, dan mengenal nama Jane Austen serta Shakespeare.
Treves
menulis,
Masalahnya itulah yang menjadikannya mulia. Ia tunjukkan dirinya sebagai makhluk yang lembut, penuh kasih sayang dan layak dikasihi… tanpa rasa dendam dan tanpa kata yang tidak baik terhadap siapapun. Saya belum pernah mendengarnya mengeluh. Saya belum pernah mendengarnya menyesalkan kehidupannya yang hancur atau membenci perlakuan yang diterimanya di tangan perawat yang kasar. Perjalanannya melalui kehidupan ini sungguh merupakan via dolorosa yang panjang, yang selamanya mendaki, dan sekarang, ketika malam paling pekat dan jalannya paling curam, ia telah menemukan dirinya, sesungguhnya, di dalam sebuah penginapan yang bersahabat, terang dan hangat menyambutnya.
Sungguh Treves tidak mengerti, bahwa seseorang yang dirampas masa kanak-kanaknya diperlakukan seperti binatang buas, dieksploitasi, tanpa satu kenangan manis pun, makhluk yang dilecehkan dan tiada berpengharapan, bisa bertahan, apalagi tampil dengan pembawaan yang demikian dapat diterima. Pada mulanya
Merrick
dengan takut-takut menanyakan apakah ia bisa masuk ke rumah sakit orang buta. Ia pernah membaca tentang tempat-tempat seperti itu dan merindukan hidup di antara orang-orang yang tidak mungkin memandanginya. Tetapi secara bertahap
Treves
dan para stafnya meraih kepercayaannya dan sebuah ruangan di lantai bawah atap di rumah sakit itu dijadikan tempat tinggal sang Elephant Man.
Treves bertekad memperkenalkan
Merrick
kepada kesenangan yang belum pernah dikenalnya. Ia tidak mempunyai apapun selain sebuah tongkat, sebuah jubah hitam yang menutupi cacatnya, sebuah topi besar dengan selubung, dan sebuah potret ibunya yang cantik. Ia mengagumi wanita walaupun setiap wanita memperlakukannya dengan jijik. Treves membujuk seorang temannya, seorang janda wanita yang cantik, untuk memasuki kamar
Merrick
dengan senyum, mengucapkan selamat pagi, dan menjabat tangannya-singkatnya memperlakukannya sebagai manusia.
“Efeknya terhadap Merrick yang
malang
ternyata di luar dugaan saya,” kata
Treves
. “Setelah melepaskan tangan teman saya itu,
Merrick
menundukkan kepalanya dan menangis terisak-isak hingga saya kira tidak akan berhenti.. Belakangan ia beritahu saya bahwa itulah wanita pertama yang bisa tersenyum kepadanya, dan wanita pertama seumur hidupnya, yang telah berjabat tangan dengannya. Semenjak hari itulah
Merrick
berubah, sedikit demi sedikit, dari makhluk yang ditakuti, menjadi seorang pria.”
Sang janda bukanlah wanita terakhir yang menjabat tangannya. Sementara kabar tentang sang Elephant Man tersebar, selebriti, aktris, dan bahkan puteri
Wales
, yang segera menjadi ratu Alexandra, mampir untuk membesuknya di rumah sakit ini. Pendeta rumah sakit ini berkawan dengannya dan memberinya komuni. Dr. Treves mengatur untuk menyelundupkan Merrick ke dalam tempat-tempat privat di teater-teater di
London
, dimana untuk pertama kalinya ia menonton drama.
Ketika Treves menemukan sebuah wisma tamu di desa,
Merrick
diperkenalkan kepada dunia alam, jauh dari mata manusia yang menusuk. Ia dengarkan kicauan burung, ia belai seekor kelinci, ia berkawan dengan seekor anjing, ia saksikan ikan-ikan trout berenang di sungai. Ia petik bunga liar dan ia bawa sampelnya ke
Treves
. Terhadap setiap pengalaman hidup baru itu ia memberikan respon takjub seperti anak-anak. “Setiap jamnya saya senang sekali,” demikian ia terus mengulangi.
Menggunakan tangan kirinya, satu-satunya yang berfungsi,
Merrick
mulai membuat model gedung-gedung, merekat dengan hati-hati kertas berwarna dan karton pilihan. Ia persembahkan hasil karyanya itu kepada para selebriti yang mampir membesuknya dan kepada staf rumah sakit itu. Dari kamarnya, dari mana ia dapat melihat gereja St. Philip di satu pojoknya, ia bisa melihat sebuah gereja rumah sakit baru dibangun, dan menggunakan kedua gereja ini sebagai model ia bekerja sehari-hari menciptakan model katedral yang sangat indah, lengkap dengan dekorasinya. Ia sebut gereja baru di luar itu “tiruan kasih karunia yang terus naik dari lumpur”, dan model buatannya sendiri disebutnya “tiruan dari sebuah tiruan.”
Setelah empat tahun bahagia, satu-satunya kebahagiaan yang pernah dikenalnya,
Merrick
meninggal dalam tidurnya. Kepala yang luar biasa besar itu jatuh di atas bantalnya, menghancurkan tulang belakang lehernya dan membuatnya kehabisan oksigen. Rumah sakit itu membuat cetakan tubuhnya untuk mencatat kelainnannya yang langka itu.
Ada
cetakan yang masih bisa dilihat di museum
London
Hospital
, bersamaan dengan model katedral “tiruan kasih karunia yang terus naik dari lumpur”. Seperti kehidupan John Merrick sendiri.
Diambil dari
“Kabar Burung tentang Dunia Lain”
karangan Philip Yancey