Blue to Red

October 11th, 2007 by tonosugi77

Blue to Red

One of my habits when I’m in the “blue” mood is watching a great movie. Well actually it’s not only when I am in that particular mood. But last night was quite a tough time for me. A very bad news came in and I didn’t prepare to receive it. Anyway, I picked Antoine Fuqua’s "Tears of the Sun" from my collection. I was hoping that through this movie my pain could be somehow eased.

Though this was my second time I watched it, I could still enjoy and even emotionally involve with the story. What an amazing movie. A group of soldiers put their lives to save African villagers from genocide strike. The beauty of the movie of course is not the sexy Monica Belluci or the great acting of Bruce Willis, but the story itself. This action flick somehow shed my tears.

If you watch this movie, you’ll see how someone’s perspective on life could be changed. L.T, that’s what the soldiers call Bruce Willis’ character, isn’t doing the job for his conscience at the beginning of the story. He does everything necessary to complete the mission because of his responsibility as a soldier. He just follows order. Through the story, this character develops as he finds the meaning of a true mission. He dares to challenge his authority and runs his own scenario. He realizes that it’s not a matter of following order. It’s about life.

Many times we’re comfortably stuck in the middle of our routine work. We do our best. We pour ourselves into our projects. We love to succeed and complete our tasks. In fact we see victories. But it’s all because we’re just trying to be responsible. Do we really understand the meaning of our work? Do we really comprehend the impact of our failure and success? Do we really embrace the job as a life mission?

At the climax of the movie, the group is attacked by hundreds of rebellions from every direction. One of the soldiers is hit and his abdomen is bleeding badly. Approaching his death, L.T holds his hands and tries to comfort him. This dying soldier, trying to smile, says a sentence that struck my heart, “This is not for nothing, right? This is not for nothing, right?” I can’t even remember if he really said it twice or it was echoing in my head.

In the end it doesn’t even matter, says Linkin Park. But I admire that bleeding soldier sacrificing his life for the African villagers. In the end it does matter. After all we’ve done, the most important question is “This is not for nothing, right?” Many times we forget, our sweat and blood is worth shedding when we fight for something eternal. We’re stuck on insignificant problems. We focus on ourselves and see our pain bigger than the frame. We sympathize on ourselves. We cry over our stupid failure like a soldier cries over a slightly cut finger tip. Like Paul said, “In your struggle against sin, you have not yet resisted to the point of shedding your blood.”

I was learning something that night. I said to God, “Teach me to see this life through Your eyes. I don’t want to cry over small things.” Indeed, my pain was almost gone. Even a broken heart can’t compare with the grandeur of a single saving soul. In the end, I would love to say to my self and to others, “Hey, this is not for nothing.”

Oct 12 2007

ZCW

Art and Beauty

March 26th, 2007 by tonosugi77

When many people might refer art to beauty, let me share a very interesting point that I got from a book titled "Gospel According to Starbuck" by Leonard Sweet. It reads like this.

Beauty is Not Useful.
When the Swiss biologist Adolf Portmann went ten miles down into the ocean depth, he found in the virgin darkness useless beauty-fish and other oceanic creatures festooned with complex designs and brilliant colors that no one could see or appreciate. No one except a God whose eyes hunger for beauty.

But then he wrote another point which sounds contradictive to the previous one.

Beauty Magnifies Message
You can tell someone "I love you" with words. Or you can say the same thing with flowers, which repeat "I love you" with smell, touch, and sight and say it for days, not seconds.

I guess Leonard Sweet just presented something which I think is the very basic rule of art: "a beauty which is hidden somewhere, whose exsistence and benefits may not consciously be noticed, but certainly magnifies a message!"

Surely Leonard Sweet has revolved my perspective on beauty… and art as well, in a very sweet way.

Art is definetely a beauty, but the valid question is: what kind?

Kokok Ayam

April 19th, 2006 by tonosugi77

Kokok ayam di tengah malam buta Aku tahu sebuah kisah … yang sebelumnya hanya tulisan di sebuah kitab tebal. Seorang yang disesah di tengah malam buta… Maksudku buta… Benar-benar buta karena tidak ada yang sanggup melihat darahnya menetes di batu taman yang basah… Malam itu mereka tertidur pulas… Masing-masing bermimpi memakai mahkota… atau mendapat putri raja yang rupawan… sementara darahnya terus menetes di batu taman yang basah… Saat prajurit gadungan datang, mereka gelagapan dan menghunus pedang… Entah takut, berani, atau pura-pura loyal… Lalu sebuah ciuman mendarat… di pipinya yang masih berdarah… Ciuman paling terkenal sepanjang masa… Coba tebak ciuman siapa… Bukan ciuman seorang pecinta, tapi ciuman seorang sahabat di tengah malam buta… Lalu tiga kali sahabat yang lain berkata Tidak aku tidak kenal dia Sumpah mati aku bukan siapa-siapa Tiga tahun persahabatan jadi air keruh comberan Matanya lelah… Ia menatap kasihan… Tamparan dan ludah mendarat di pipinya… Tidak terasa, tidak tergerak… Baginya jauh lebih menyayat… Kokok ayam di tengah malam buta… Los Angeles, April 19, 2006 Tonosugi Di suatu malam buta, setelah aku mendengar “kokok ayam” yang jauh lebih lemah tapi tetap menyayat.

SADAN

March 8th, 2006 by tonosugi77

SADAN

This is an amazing story about an Indian man named Sadan. He will answer your question, probably one of the most mysterious questions about life: “What is happiness?”

Ia terlihat seperti miniature Gandhi: sangat kurus, botak, berkacamata tebal, duduk bersila di pinggir tempat tidur. Pintu menuju apartemennya yang sederhana terbuka, dan burung2 kecil beterbangan keluar-masuk. Seekor anjing kudis tidur di anak tangga. Kepada saya, Sadan memperlihatkan kakinya yang ujungnya berbentuk tumpul dan halus, bukan jari2 kaki. “Ketika saya mengenal suami-istri Brand, sudah terlalu terlambat untuk menyelamatkan ini,” ujarnya. “Tetapi mereka memberi saya sepatu yang membuat saya berjalan.”

Dengan nada tinggi dan bermelodi, Sadan mengisahkan kepada saya pengalaman2 masa lalunya ketika ia ditolak: oleh teman2 sekelas yang memperolok-olok dia di sekolah, pengemudi yang memaksa dia keluar dari bis, banyak bos yang menolak mempekerjakan dia meskipun ia terlatih dan bertalenta, rumah2 sakit yang mengusir dia dengan kasar “Di sini kami tidak merawat orang kusta.” “Setibanya di Vellore, saya tidur di teras rumah keluarga Brand, karena saya tidak tahu harus ke mana,” kata Sadan. “Ketika itu belum pernah terdengar orang dengan penyakit kusta. Saya masih belum lupa ketika Dr.Brand memegang kaki saya yang infeksi dan berdarah. Saya sudah berobat ke banyak dokter. Beberapa di antara mereka memeriksa tangan dan kaki saya dari jauh, tetapi Dr. Paul dan Dr. Margaret adalah pekerja medis pertama yang berani menyentuh saya. Saya nyaris lupa bagaimana rasanya sebuah sentuhan manusia. Yang lebih mengesankan, bahkan mereka menyuruh saya menginap di rumah mereka malam itu, padahal petugas2 medis takut melihat kusta.”

Kemudian Sadan memaparkan secara panjang lebar prosedur medis yang dilakukan- pemindahan tendon, melepaskan saraf, amputas jari kaki, dan penyingkiran katarak- yang dilaksanakan oleh suami-istri Brand. Dengan memindahkan tendon ke jari2 tangannya, suami-istri itu memungkinkan Sadan untuk menulis kembali. Sampai saat itu ia masih menyimpan catatan2 berisi program perawatan gratis bagi penderita kusta lewat 53 klinik yang berpindah-pindah tempat. Ia berbicara selama setengah jam. Masa lalunya merupakan sebuah katalog penderitaan. Dan stigma itu terus berlanjut sampai hari ini: baru2 ini ia duduk di mobil sendirian dan menyaksikan pernikahan putrinya dari kejauhan, takut kalau2 kehadirannya mengganggu para tamu.

Selagi suami-istri Brand dan saya menikmati teh untuk terakhir kalinya di rumah Sadan, persis sebelum kami berangkat untuk mengejar pesawat ke Inggris, Sadan membuat pernyataan yang mengejutkan: “Meskipun demikian, saya sekarang sangat bahagia bahwa ketika itu saya terkena penyakit ini.”

“Bahagia?” saya bertanya keheranan.

Sadan menjawab, “Ya. Kalau bukan karena kusta, saya akan menjadi pria normal yang mempunyai keluarga normal yang mengejar kekayaan dan jabatan yang lebih tinggi di masyarakat. Saya tidak akan pernah mengenal orang2 yang begitu mengagumkan seperti Dr. Paul dan Dr. Margaret, dan saya tidak pernah mengenal Tuhan yang hidup dalam diri mereka.”

“What is happiness?” I let you decide for yourself what happiness is.

Taken from Soul Survivors (Indonesian version) by Philip Yancey.

Itu?

March 8th, 2006 by tonosugi77

Hahahaha…

Hehehehe…

Hahahahaha…

Hihihihiihihiiii…

Huahahahaha…

Hehehehe… Hehehehehe…

Hmmmmmmuahahahhaha…

Hihihihiiiiii…

Hehehehhe…

Hehehehehe… Hehehehe…

Hihihihihihiiiiii… hihihihihiihihihihihi

Apa? Huahahahahahhaha…

Itu? Huahahahahahahaha…

Hehehehe…

Hihihihiiii…

Hehehehehe…

Hehehehe…

Heeeehhhhh…

Hmmmm…

Hmmmm…

Hehehe…

Hmmmm…

Hehe…

Hmmmm…

Hmmmm…

Ah, cukup ah!

Enak’kan tertawa..?

Los Angeles, March 8, 2006

Tonosugi

Aku

March 8th, 2006 by tonosugi77

AKU

Sepanjang hari Aku mencari-cari jalan, menelusuri segudang kemungkinan, mengais-ngais kesempatan untuk mendapatkan kesenangan. Pikiranku penuh dengan rasa kuatir (yang kadang menyajikan kenikmatan setara dengan sebuah ambisi yang menggebu) untuk meraup untung, bukan hanya secara materi, tetapi secara jiwani. Apa yang menyenangkan Aku? Apa yang membuat Aku bahagia hari ini? Apa yang bisa memuaskan Aku, membuat Aku merasa nyaman, tertawa, dan bangga dengan diriku sendiri?

Oh, betapa miskinnya Aku ini, di saat Aku merasa hebat. Seperti pengemis di pinggir jalan, menantikan koin-koin berjatuhan di tangan supaya hariku sedikit terang. Bila genggamanku terasa berat, Aku berdansa dalam fantasi sesaat, merasa di awan-awan. Bila genggamanku ringan, malu Aku, sembunyi di pojok, takut dicela lawan maupun kawan, sesama pengemis yang tidak pernah merasa aman satu sama lain.

Humanis mengagungkan Aku. Mereka berpikir kesuksesan ditentukan oleh Aku. Dan hanya Aku yang menentukan segalanya dalam hidup ini. Pujangga-pujangga modern menjelaskan dengan gaya bahasa yang indah bahwa Aku adalah sang penulis skenario dalam hidup ini. Aku menentukan kapan bangun, kapan mandi, kapan sikat gigi, kapan meraih sukses dan kapan menabur kegagalan. Hidup adalah Aku dan mati adalah kamu.

Nafsu menyelinap seperti tamu tak diundang dalam pesta pernikahan. Dia masuk, makan dan minum, bersalaman sana-sini, lalu tiba-tiba ia duduk di pelaminan. Tidak ada seorangpun berani menyuruhnya turun. Dia menari-nari di pelaminan, berjingkat-jingkat di atasnya, menarik perhatian semua orang. Sekarang dia raja dalam pesta itu. Mempelai Pria hancur hati melihat mempelai wanita tertawa dan bermain mata dengannya.

Oh, dunia ini begitu aneh. Getirnya kehidupan tidak menghentikan orang melangkah ke pesta. Di saat bom meledak memisahkan bagian-bagian tubuh manusia, orang mengangkat gelas berisi anggur dan saling mengucapkan selamat. Orang berpakaian putih-putih, merasa dirinya suci saat memenggal kepala orang, demi mendapatkan kehidupan di balik cakrawala bersama tujuh anak dara. Keturunan Ilahi berkonser ria, mengkoleksi lagu-lagu bernuansa surga, gelisah dengan senar gitar yang sedikit sumbang atau gemerincing simbal yang agak tenggelam, bersekutu dalam perjamuan makan sepuluh macam, menebar uang demi dekorasi belasan juta yang memanjakan mata, memasukkan tangannya ke dalam kantong kolekte sempit berwarna merah. Muaknya Aku akan kehidupan mungkin semuak Pencipta akan Aku sendiri.

Kadang Aku frustasi, menyesali diri, dan meratapi kemiskinan. Kadang Aku menyombong, memberi hormat, mengumbar senyum dan kecupan kepada sosok di balik cermin yang retak. Kadang Aku merayap-rayap di kolong meja, menantikan remah-remah roti yang jatuh dari meja Sang Raja. Kadang Aku berpacu dengan angin, melintasi gunung dan lembah, gurun dan rawa, mencari kebebasan dari Aku sendiri. Jatuh, berdiri, lari, tersungkur, berguling-guling, berteriak di tengah kegelapan…

Semoga… dan semoga saja Kasih Karunia terus menang. Siapakah Aku? Masa’ gak tahu? Coba katakan…‘Aku’.

Los Angeles, Oct 1st 2005

Tonosugi

The Elephant Man

March 8th, 2006 by tonosugi77

The Elephant Man

Seorang antropolog bernama Ashley Montagu menulis sebuah buku berjudul “The Elephant Man”. Elephant Man adalah manusia sungguhan bernama John Merrick yang tinggal di Inggris pada abad kesembilan belas dan meninggal pada tahun 1890 di usia dua puluh tujuh tahun. Beginilah Ashley memulai bukunya:

Apakah kehidupan manusia itu? Suatu denyut di dalam detak jantung kekekalan-kah? Tangisan yang dimulai dengan kelahiran dan diakhiri dengan kematian-kah? Pengembaraan singkat dan penuh gejolak di pantai yang tidak ramah, dimana sesungguhnya tidak ada sukacita, tidak ada kasih, tidak ada terang, tidak ada kepastian, tidak ada kedamaian, tidak ada pertolongan atas kepedihan-kah? Atau apakah, apakah lebih daripada itu?

Dalam buku inilah, menurut saya, terletak sesuatu yang menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut. 

Merrick

itu mungkin manusia paling buruk rupa yang pernah hidup. Kelainan yang dikenal sebagai neurofibromatosis bekerja secara progresif semenjak ia kecil sehingga mengubahnya menjadi monster. Di usia empat tahun seorang pemimpin karnival menemukannya dan memutuskan untuk mendapatkan uang dari penampilannya yang mengerikan itu. Mereka-mereka yang melihatnya akan membayar beberapa sen untuk melihat manusia yang demikian tidak karuan bentuknya, sehingga dari sudut tertentu ia menyerupai seekor gajah dengan belalainya serta kulit berlipat-lipat.

Suatu hari, Frederick Treves, seorang dokter bedah di rumah sakit di London, berjalan-jalan ke karnival tersebut seusai jam kerja, memperhatikan gambaran kasar tentang seorang manusia gajah di kanvas penutup ruangan itu, dan membayar untuk melihatnya sendiri. Ia lihat suatu makhluk yang meringkuk di sebelah kompor Bunsen untuk menghangatkan diri, yang dinyalakan oleh api gas biru. Sosok bungkuk ini meringkuk di balik selimut yang tampaknya merupakan perwujudan dari kesepian dan keputusasaan.

Seolah-olah memberikan perintah kepada seekor anjing, sang pemimpin karnival membentak, “Ayo berdiri!” Makhluk ini pun bangkit berdiri dan membiarkan selimutnya jatuh ke tanah, mengungkapkan kepada

Treves

“spesimen manusia yang paling menjijikkan yang pernah saya lihat”.

Treves lebih lanjut menggambarkan cacat sang Elephant Man secara klinis: ada massa bertulang yang menonjol dari dahinya, kulitnya seperti busa, dengan permukaan retak menyerupai cauliflower (semacam sayuran) coklat bergantung berlipat-lipat dari punggungnya; sebuah kepala yang tidak beraturan bentuknya, yang sangat besar, yang lingkarannya sama dengan lingkar pinggang seorang dewasa; mulutnya seperti bukaan mengok yang meneteskan air liur; hidungnya seperti tumpukan kulit yang menggantung; sekantong daging seperti kantong leher seekor reptil tergantung dari dadanya. Lengan kanannya membesar dua kali ukuran normalnya, jari-jemarinya gemuk pendek dan tidak dapat digunakan.

Ada

berlapis-lapis kulit menggantung di salah satu ketiaknya; kaki-kaki cacat menopangnya hanya kalau ia berpegangan pada sebuah kursi.

Ada

bau menyengat tercium dari kulitnya yang berjamur.

Setelah rasa jijiknya dikalahkan oleh rasa ingin tahunya tentang kondisi medis orang ini, Dr. Treves pun mengatur agar John Merrick, yang ketika itu berusia 21 tahun, untuk diperiksa di rumah sakitnya. Karena cacat pada mulutnya, Merrick sulit berbicara, dan

Treves

menilainya terbelakang. Setelah mengambil beberapa foto dan membuat banyak catatan, Treves sia-sia berusaha berkomunikasi lebih lanjut, memberikan kartu namanya kepada

Merrick

, dan mengembalikannya kepada sang pemimpin karnival. Keesokan harinya polisi menyerbu karnival tersebut, dan

Treves

mengasumsikan tidak akan pernah melihat sang Elephant Man lagi.

Selama dua tahun lagi John Merrick hidup sebagai orang buangan, diakomodasikan seperti hewan sirkus dan dibiarkan ke luar untuk menghibur orang-orang yang penasaran, yang pasti ngeri melihatnya. Ketika pihak penguasa di Belgia menutup karnival itu selamanya, pemimpinnya mengantongi bagian Merrick dari hasil penjualan tiketnya dan mengirimkannya kembali ke

London

.

Selama perjalanan, para penumpang lainnya menyiksanya, mengangkat pinggiran pakaiannya untuk mengintip tubuhnya yang tidak karuan itu. Di stasiun kereta api di

London

, polisi menyelamatkannya, dan membawanya ke ruang tunggu yang sudah tidak digunakan lagi, dimana ia meringkuk di pojok yang gelap, menggumamkan kata-kata yang tidak dapat mereka pahami. Ia hanya mempunyai seberkas pengharapan: kartu Dr. Frederick Treves, yang sudah dua tahun di simpan di sakunya.

Treves menjawab panggilan polisi, menemukan

Merrick

meringkuk di pojok dan mengantarkannya ke bangsal isolasi di rumah sakitnya. Ia belum pernah makan atau minum semenjak berangkat dari Belgia.

Treves

memesan makanan dari kafetaria rumah sakitnya tetapi perawat yang mengirimkannya, tidak siap melihatnya, menjerit, menjatuhkan nampannya, dan lari dari kamarnya. Sang pasien tidak sempat memperhatikan.

Dengan berjalannya waktu, staf rumah sakit terbiasa dengan pasien  yang luar biasa ini. Bau badannya hilang setelah dimandikan setiap hari. Dengan latihan, Treves belajar memahami perkataan Merrick, dan di luar dugaannya, ternyata jauh dari terbelakang,

Merrick

justru kutu buku. Ia telah mempelajari Alkitab dan Kitab Doa Umum, dan mengenal nama Jane Austen serta Shakespeare.

Treves

menulis,

Masalahnya itulah yang menjadikannya mulia. Ia tunjukkan dirinya sebagai makhluk yang lembut, penuh kasih sayang dan layak dikasihi… tanpa rasa dendam dan tanpa kata yang tidak baik terhadap siapapun. Saya belum pernah mendengarnya mengeluh. Saya belum pernah mendengarnya menyesalkan kehidupannya yang hancur atau membenci perlakuan yang diterimanya di tangan perawat yang kasar. Perjalanannya melalui kehidupan ini sungguh merupakan via dolorosa yang panjang, yang selamanya mendaki, dan sekarang, ketika malam paling pekat dan jalannya paling curam, ia telah menemukan dirinya, sesungguhnya, di dalam sebuah penginapan yang bersahabat, terang dan hangat menyambutnya.

Sungguh Treves tidak mengerti, bahwa seseorang yang dirampas masa kanak-kanaknya diperlakukan seperti binatang buas, dieksploitasi, tanpa satu kenangan manis pun, makhluk yang dilecehkan dan tiada berpengharapan, bisa bertahan, apalagi tampil dengan pembawaan yang demikian dapat diterima. Pada mulanya

Merrick

dengan takut-takut menanyakan apakah ia bisa masuk ke rumah sakit orang buta. Ia pernah membaca tentang tempat-tempat seperti itu dan merindukan hidup di antara orang-orang yang tidak mungkin memandanginya. Tetapi secara bertahap

Treves

dan para stafnya meraih kepercayaannya dan sebuah ruangan di lantai bawah atap di rumah sakit itu dijadikan tempat tinggal sang Elephant Man.

Treves bertekad memperkenalkan

Merrick

kepada kesenangan yang belum pernah dikenalnya. Ia tidak mempunyai apapun selain sebuah tongkat, sebuah jubah hitam yang menutupi cacatnya, sebuah topi besar dengan selubung, dan sebuah potret ibunya yang cantik. Ia mengagumi wanita walaupun setiap wanita memperlakukannya dengan jijik. Treves membujuk seorang temannya, seorang janda wanita yang cantik, untuk memasuki kamar

Merrick

dengan senyum, mengucapkan selamat pagi, dan menjabat tangannya-singkatnya memperlakukannya sebagai manusia.

“Efeknya terhadap Merrick yang

malang

ternyata di luar dugaan saya,” kata

Treves

. “Setelah melepaskan tangan teman saya itu,

Merrick

menundukkan kepalanya dan menangis terisak-isak hingga saya kira tidak akan berhenti.. Belakangan ia beritahu saya bahwa itulah wanita pertama yang bisa tersenyum kepadanya, dan wanita pertama seumur hidupnya, yang telah berjabat tangan dengannya. Semenjak hari itulah

Merrick

berubah, sedikit demi sedikit, dari makhluk yang ditakuti, menjadi seorang pria.”

Sang janda bukanlah wanita terakhir yang menjabat tangannya. Sementara kabar tentang sang Elephant Man tersebar, selebriti, aktris, dan bahkan puteri

Wales

, yang segera menjadi ratu Alexandra, mampir untuk membesuknya di rumah sakit ini. Pendeta rumah sakit ini berkawan dengannya dan memberinya komuni. Dr. Treves mengatur untuk menyelundupkan Merrick ke dalam tempat-tempat privat di teater-teater di

London

, dimana untuk pertama kalinya ia menonton drama.

Ketika Treves menemukan sebuah wisma tamu di desa,

Merrick

diperkenalkan kepada dunia alam, jauh dari mata manusia yang menusuk. Ia dengarkan kicauan burung, ia belai seekor kelinci, ia berkawan dengan seekor anjing, ia saksikan ikan-ikan trout berenang di sungai. Ia petik bunga liar dan ia bawa sampelnya ke

Treves

. Terhadap setiap pengalaman hidup baru itu ia memberikan respon takjub seperti anak-anak. “Setiap jamnya saya senang sekali,” demikian ia terus mengulangi.

Menggunakan tangan kirinya, satu-satunya yang berfungsi,

Merrick

mulai membuat model gedung-gedung, merekat dengan hati-hati kertas berwarna dan karton pilihan. Ia persembahkan hasil karyanya itu kepada para selebriti yang mampir membesuknya dan kepada staf rumah sakit itu. Dari kamarnya, dari mana ia dapat melihat gereja St. Philip di satu pojoknya, ia bisa melihat sebuah gereja rumah sakit baru dibangun, dan menggunakan kedua gereja ini sebagai model ia bekerja sehari-hari menciptakan model katedral yang sangat indah, lengkap dengan dekorasinya. Ia sebut gereja baru di luar itu “tiruan kasih karunia yang terus naik dari lumpur”, dan model buatannya sendiri disebutnya “tiruan dari sebuah tiruan.”

Setelah empat tahun bahagia, satu-satunya kebahagiaan yang pernah dikenalnya,

Merrick

meninggal dalam tidurnya. Kepala yang luar biasa besar itu jatuh di atas bantalnya, menghancurkan tulang belakang lehernya dan membuatnya kehabisan oksigen. Rumah sakit itu membuat cetakan tubuhnya untuk mencatat kelainnannya yang langka itu.

Ada

cetakan yang masih bisa dilihat di museum

London

Hospital

, bersamaan dengan model katedral “tiruan kasih karunia yang terus naik dari lumpur”. Seperti kehidupan John Merrick sendiri.

Diambil dari

“Kabar Burung tentang Dunia Lain”

karangan Philip Yancey

Love School

March 8th, 2006 by tonosugi77

Love School

“Love never fails. But whether there are prophecies, they will fail; whether there are tongues, they will cease; whether there is knowledge, it will vanish away.”

Love never fails, but few pursue it. People work for gold, strive for pleasure, run for happiness, but love is abandoned just like a beggar on the street corner. Young men learn how to flirt, how to date, and when they get old they learn how to cheat. Some learn how to live along without love. Some survive from the wildness of the arctic modern life.

Love is supernatural. Love is only love when you are in the bad place at the wrong time with difficult people. Love is only love when there is a big chance to hate. Love appears, knocking at your door when hatred slips through your bedroom window and you are about to welcome him with a hug. Love is like hard rain in the dessert, the sun shining in the night, and fire burning an ice house in Alaska.

Imagine there’s a love school in this world of selfishness. Only tens of people will show up on the registration day. They are a bunch of desperate people, people with difficulties in life.

There’s a mother who has a 29-year-old retarded son. She is the first person standing on the line. She’s waited there since dawn. She has to feed her son, put on his dress and shoes, and combs his hair everyday. She is the one who collects his crap and washes the bed sheet every morning. She hardly sees people’s eyes when they walk at the mall. Her perfume is as simply as her son’s vomit.

Second person on the line is a young man. He just married ten days ago with a girl he loves so much. Out of the blue his wife breathed the last air yesterday. They said that it was malaria, but in his mind it was God. What would you think he needs now? How is he going to love while the Love is screwing his life? He stands on the line with an application sheet wet with tears.

A 6 year old girl is standing behind him. She has been told that her mother tried to abort her birth because they didn’t have enough money for another kid. Her father is a drinker and a gambler as well. Time and affection has been traded with money and stuffs. For this girl, love is just a concept that is too hard to comprehend. Even if she finds it one day, she will hardly know that it is the thing she’s been looking for.

This group of freaks is there in the middle of a winter night, waiting to get in. Sometimes, making decision to learn love is another battle on its own. Would you stand on the line? Would you sacrifice your warm bed to a freezing wind blowing on your face and grabbing your fingers stiff? Love never fails, but it surely costs a lot.

Los Angeles, February 4, 2006 Tonosugi

Crash Wins!

March 6th, 2006 by tonosugi77

I watched this movie last year on dvd. I stunned and I thought.. man, what an incredible movie. It’s even bigger than the movie itself. As you know, one Hollywood feature film can cost tens or even hundreds of millions of dollars. The Superman Return will be released on $326million!!!  But the budget is only proving how big the filmmakers’ head. It doesn’t represent our life as human. And it even makes you nuts when you know that only 3 of 10 Hollywood films gets their profit. Well, I don’t really care about that. If you want to broke and loose money, just loose it in a ‘worth it’ way. I don’t know if Crash gets its profit or not. This wonderful inspiring flick cost less than $4 million and it provokes our blindness in dealing with skin tones. 

Everyday we face problems, such as racism, poverty, injustice, and war, but movies in our theatre just show crazy stuffs that doesn’t relate anything to our problem. Not to say, a solution. Hollywood becomes a greedy monster. They only think about how much profit they make. It goes away to the spirit of humanity. Why bother making movie just to feed your greedy souls while many people are starving for truth and justice?

I’m quite surprised with this year Oscar. Tsotsi which has a tagline "In this world… Redemption just comes once." wins as an foreign language film. Munich which tackles some issue of war, was nominated. March of the Penguin almost embarassed me as human being because women nowadays abort their babies for protecting their lives, while penguins sacrifice their lives for the babies. And it wins the documentary award.  As many controversy films raise on the surface, we can hope Hollywood will change her face. Not just for money, but for the sake of our life in this corrupt and broken world. Way to go, filmmakers!